Translate

Minggu, 20 April 2014

Bidang, Sifat, dan Etika Komunikasi

1    1.    PENGERTIAN KOMUNIKASI

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.

Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu:

Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another.Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.

Untuk memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat dilancarkan secara efektif dalam Effendy(1994:10) bahwa para peminat komunikasi sering kali mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu:
  1. 1.       Komunikator (siapa yang mengatakan?)
  2. 2.       Pesan (mengatakan apa?)
  3. 3.       Media (melalui saluran/ channel/media apa?)
  4. 4.       Komunikan (kepada siapa?)
  5. 5.       Efek (dengan dampak/efek apa?).

Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima yang menimbulkan efek tertentu.

2.       Sifat Komunikasi
a. Tatap Muka (face to face)
b. Bermedia (mediated)
c. Verbal (verbal)
     - Lisan (oral)
     - Tulisan / Cetak (writen / printed)
d. Non Verbal (non verbal)
     - Kial / Syarat Badaniah (gestural)
     - Bergambar (pictorial), Facial Exressions, Spatial Relationship

3    3. Etika Komunikasi
Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat suatu sistem yang mengatur tentang tata cara manusia bergaul. Tata cara pergaulan untuk saling menghormati biasa kita kenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan lain-lain.Tata cara pergaulan bertujuan untuk menjaga kepentingan komunikator dengan komunikan agar merasa senang, tentram, terlindungi tanpa ada pihak yang dirugikan kepentingannya dan perbuatan yang dilakukan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku serta tidak bertentangan dengan hak asasi manusia secara umum.

Tata cara pergaulan, aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam bermasyarakat dan menentukan nilai baik dan nilai tidak baik, dinamakanetika. Istilah etika berasal dari kata ethikus (latin) dan dalam bahasa Yunani disebut ethicos yang berarti kebiasaan norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran baik dan buruk tingkah laku manusia.

Jadi, etika komunikasi adalah norma, nilai, atau ukuran tingkah laku baik dalam kegiatan komunikasi di suatu masyarakat. Beberapa pendpat para ahli mengenai pengertian etika antara lain sebagai berikut:
a.      Pendapat Drs. D.P. Simorangkir
         Etika atau etik adalah pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik        
b.      Pendapat Drs. Sidi Cjajalba
         Etika ialah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk sejauh                yang dapat ditentukan oleh akal.
c.       Pendapat Dr. A. Voemans
         Etika dan etik terdapat hubungan yang erat dengan masalah pendidikan.

Penggolongan Etika
Dalam menelaah ukuran baik dan buruk suatu tingkah laku yang ada dalam masyarakat kita bisa melakukan penggolongan etika menjadi dua kategori yaitu:

1.      Etika Deskriptif
Merupakan usaha menilai tindakan atau perilaku berdasarkan pada ketentuan atau norma baik buruk yang tumbuh dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kerangka etika ini pada hakikatnya menempatkan kebiasaan yang sudah ada di dalam masyarakat sebagai acuan etis. Suatu tindakan seseorang disebut etis atau tidak, tergantung pada kesesuaiannya dengan yang dilakukan kebanyakan orang.

2.      Etika Normatif
Etika yang berusaha menelaah dan memberikan penilaian suatu tindakan etis atau tidak, tergantung dengan kesesuaiannya terhadap norma-norma yang sudah dibakukan dalam suatu masyarakat. Norma rujukan yang digunakan untuk menilai tindakan wujudnya bisa berupa tata tertib, dan juga kode etik profesi.

Aliran Etika
Menurut John C. Merill (1975:79-88) menguraikan adanya berbagai aliran etika yang dapat digunakan sebagai standar menilai tindakan etis, antara lain sebagai berikut:

1.      Aliran Deontologis
Deon berasal dari bahasa Yunani yaitu “yang harus atau wajib” melakukan penilaian atas tindakan dengan melihat tindakan itu sendiri, artinya suatu tindakan secara hakiki mengandung nilai sendiri apakah baik atau buruk. Kriteria etis ditetapkan langsung pada jenis tindakan itu sendiri ada tindakan atau perilaku yang langsung dikategorikan baik, tetapi juga ada perilaku yang langsung dinilai buruk. Misalnya perbuatan mencuri, memfitnal, mengingkari janji. Adapun alasannya perbuatan itu tetap dinilai sebagai perbuatan yang tidak etis dengan demikian ukuran dari tindakan ada didalam tindakan itu sendiri.

2.      Aliran Teologis
Aliran ini melihat nilai etis bukan pada tindakan itu sendiri, tetapi dilihat dari tujuan atas tindakan itu. Jika tujuannya baik, dalam arti sesuai dengan norma moral, maka tindakan itu digolongkan sebagai tindakan etis.

3.      Aliran Etika Egoisme
Aliran ini menetapkan norma moral pada akibat yang diperoleh oleh pelakunya sendiri. Artinya, tindakan diketegorikan etis atau baik,  apabila menghasilkan yang terbaik bagi diri sendiri.

4.      Aliran Etika Utilitarisme
Aliran yang memandang suatu tindakan itu baik jika akibatnya baik bagi orang banyak. Dengan demikian, tindakan itu tidak diukur dariv kepentingan subyektif individu, melainkan secara obyektif pada masyarakat umum. Semakin universal akibat baik dari tindakan itu, maka dipandang semakin etis.

Etika Yang Baik Dalam Komunikasi
Berikut di bawah ini adalah beberapa etika dan etiket dalam berkomunikasi antar manusia dalam kehidupan sehari-hari :
1.      Jujur tidak berbohong
2.      Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan
3.      Lapang dada dalam berkomunikasi
4.      Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik
5.      Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
6.      Tidak mudah emosi / emosional
7.      Berinisiatif sebagai pembuka dialog
8.      Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
9.      Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan
10.  Bertingkahlaku yang baik

Contoh Teknik Komunikasi Yang Baik
1.      Menggunakan kata dan kalimat yang baik menyesuaikan dengan lingkungan.
2.      Gunakan bahawa yang mudah dimengerti oleh lawan bicara.
3.      Menatap mata lawan bicara dengan lembut.
4.      Memberikan ekspresi wajah yang ramah dan murah senyum.
5.      Gunakan gerakan tubuh / gesture yang sopan dan wajar.
6.      Bertingkah laku yang baik dan ramah terhadap lawan bicara.
7.      Memakai pakaian yang rapi, menutup aurat dan sesuai sikon.
8.      Tidak mudah terpancing emosi lawan bicara.
9.      Menerima segala perbedaan pendapat atau perselisihan yang terjadi.
10.    Mampu menempatkan diri dan menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan karakteristik lawan
          bicara.
11.    Menggunakan volume, nada, intonasi suara serta kecepatan bicara yang baik.
12.    Menggunakan komunikasi non verbal yang baik sesuai budaya yang berlaku seperti berjabat
          tangan,merunduk, hormat, ces, cipika cipiki (cium pipi kanan - cium pipi kiri)

Etika – Etika Yang Lazimnya Ada Dalam Masyarakat Indonesia
1.      Membuka Pintu Komunikasi
Hubungan antar manusia didalam masyarakat dibina atas dasar hal-hal kecil yang mengakrabkan persahabatan yang terbit dari kata hati yang tulus ikhlas. Etika menyimpan segudang pemikat untuk menyatakan perhatian kepada orang lain sekaligus untuk dapat membuka pintu komunikasi. Jadilah seseorang yang apabila ada kesempatan untuk membuka pintu komunikasi, maka lakukanlah. Sebabb hal tersebut mudah untuk dilakukan selama seseorang memilki kemauan dan keikhlasan.
Berikut ini contoh membuka pintu komunikasi yang lazimnya dilakukan :
  a.       Lambaikan tangan
  b.      Senyum yang tulus dan simpatik
  c.       Ucapkan kata sapaan : Hei! Hallo! Selamat Pagi, Assalamu’alaikum,dll.
  d.   Cobalah mengajak berjabat tangan. Kebiasaan ini sudah cukup lazim di masyarakat kita. Cara berjabat  tanganpun bervariasi. Ada yang berjabat tangan sambil menepuk bahu. Di Jepang pada umumnya orang yang berkenalan atau berjumpa tidak saling berjabat tangan, rmemeluk dan menempelkan pipi atau saling mencium. Ada yang saling merapatkan tangan tangan dan menaruhnya di dada. Ada yang saling menyentuhkan ujung jari kemudian menariknya ke arah hidung dan sebagainya. Ada banyak kebiasaan, tetapi tujuannya sama, membuka komunikasi.
  e.    Tanyakan keadaannya ; apa kabar ? Berapa anakmu? Sehat bukan?
  f.    Mintalah maaf dan permisi ; Maaf nama saya Agus, siapa nama anda ? Bolehkah aku tahu alamatmu?
  g.     Ucapkan terimakasih.

2.  Etika Komunikasi Tetap Muka
Komunikasi tatap muka, berarti mempertemukan orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi. Norma etika mesti kita perhatikan, karena apabila kita melakukan kesalahan meskipun tidak disengaja, sangat mungkin menyebabkan orang lain sakit hati. Pepatah kita mengatakan, “berkata peliharalah lidah.” Hati-hatilah dalam berbicara dengan siapapun, terutama dengan orang yang lebih senior, agar tidak mendatangkan akibat kurang menyenangkan di kemudian hari. Memang lidah tidah bertulang. Sekali terlontar kata-kata yang tidak berkenaan bagi orang lain, dengan apa kita menangkapnya kembali? Baiklah, disini di sampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita berkomunikasi secara tatap muka :
a.  Waktu berbicara hendaklah kita tenang, sekali-kali boleh saja menegaskan pembicaraan dengan gerak tangan secara halus dan sopan. Gerak tangan hendaklah tidak terlalu banyak, dan janganlah menggunakan telunjuk untuk menunjuk lawan bicara.
b.    Janganlah kita bicarakan sesuatu yang ingin dilupakan orang lain.
c.     Janganlah mempergunjingkan orang lain.
d. Janganlah memborong seluruh pembicaraan. Biasakanlah mendengarkan orang lain, dan jangan memotong pembicaraan orang lain.
e.    Hendaklah kita berdiam dan memperhatikan ketika kita pimpinan atau atasan sedang berbicara.
 f.    Waktu berbicara hendaknya kita mengambil jarak yang sesuai dengan orang yang kita ajak bicara, dalam arti tidak terlalu dekat agar lawan bicara tidak terganggu dengan bau mulut.
g.    Suara hendaklah disesuaikan, jangan terlalu keras.
h.    Kalau hendak batuk, bersin, atau menguap, hendaklah mulut ditutup dengan tangan.
i.      Kalau pembicaraan selesai hendaklah mengucapkan terimakasih.

3.  Etika Berkomunikasi dengan Media Telepon
Dewasa ini telepon, baik telepon kabel maupun seluler sudah menjadi media komunikasi yang sangat diperlukan untuk efisiensi penerimaan dan penyampaian informasi. Jika cara menelepon maupun menerima telepon tidak mengikuti tata karma maka nama baik diri kita atau perkantoran kita akan dinilai kurang baik. Oleh karena itu sejumlah perinsip etika berkomunikasi dengan telepon sangat perlu dipahami dan dilaksanakan. Menelepon pada hakikatnya sama dengan bertamu ke rumah orang lain, dan menerima telepon sama dengan menerima tamu. Apabila hendak menelepon hendaklah mempertimbangakan waktu yang tepat, jangan menelepon pada saat orang sedang istirahat (malam hari), atau sedang jam makan, kecuali pesan yang hendak kita sampaikan benar-benar sangat penting dan tidak bisa ditunda. Beberapa perinsip di bawah ini perlu diperhatikan.
a.    Berbicaralah dengan tenang, jelas, dan langsung ke sasaran ( to the point).
b.    Ketika sedang berbicara, berilah perhatian sepenuhnya kepada lawan bicara.
c.    Janganlah berbicara dengan orang lain yang berada di dekat kita, berilah isyarat secara halus kalau ada          orang lain sedang mengajak bicara.
d.   Siapkanlah kertas dan pensil untuk mencatat seperlunya.
e.    Pada akhir pembicaraan hendaklah mengucapkan terimakasih.
f.     Setelah mengakhiri pembicaraan janganlah membanting gagang telepon.
g.    Kalau telepon di kantor kita bordering, segera kita angkat gagang pesawat karena dering telepon akan          mengganggu ketenangan dan menandakan kurangnya perhatian.
h.  Kalau kita menerima telepon sebaiknya langsung menyebutkan instansi atau perkantoran kita agar segera      diketahui betul tidaknya sambungan/
i.    Cara mudah untuk menghindari pembicaraan telepon yang menyalahi etika, ialah dengan membayangkan       seolah-olah lawan berbicara bertatap muka dengan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar